Selasa, 25 September 2018

SEJARAH PENYIMPANGAN UMAT MANUSIA DARI SIROTULMUSTAQIM


I. Dahulunya umat manusia adalah umat yang berada di atas agama yang lurus.


Agama yang lurus adalah agama fitrah yang Alloh  fitrahkan kepada manusia, oleh karena itu agama ini sudah ada sejak adanya manusia, sebagaimana Alloh  berfirman:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Alloh); (tetaplah atas) fitrah Alloh yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada penciptaan (makhluk) Alloh. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum [30]:30)

Ayat di atas menunjukkan bahwa manusia telah benar-benar Alloh fitrahkan di atas aqidah yang selamat. Dan Adam  adalah manusia pertama yang terfitrahkan dengan aqidah selamat ini. Dengan demikian Adam  adalah seorang yang bertauhid kepada Alloh  dengan tauhid yang murni, seorang yang berkeyakinan kepada Alloh tentang apa-apa yang diwajibkan berupa ta’zhim (pengagungan), ketaatan, roja’ (berharap baik) dan khosyyah (ketakutan kepada-Nya). Kemudian Alloh  pun telah mengambil perjanjian dari anak keturunan Adam  bahwa Dia adalah Robb mereka dan mempersaksikan atas diri mereka sendiri di sulbi-sulbi mereka, sebagaimana firman Alloh :

“Dan (ingatlah), ketika Robbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Alloh mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Robb kalian?”. Mereka menjawab: "Betul (Engkau Robb kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kalian tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (tauhid).”  (QS. Al-A’raf [7]:172)

Ayat ini bisa difahami bahwa semua manusia dilahirkan di atas fitrah, sebagaimana juga sabda Rosululloh  dalam hadits qudsi:
“… dan sesungguhnya Aku ciptakan hamba-Ku di atas agama yang lurus semuanya, lalu datang kepada mereka Setan mengalihkan agama mereka, menghalalkan apa-apa yang haram dan memerintahkan agar menyekutukan-Ku dengan suatu yang tidak ada penjelasannya.” (HR Muslim)

Dan sabda beliau :
“Tidaklah seseorang dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah, maka ibu dan bapaknyalah yang akan membuat ia Yahudi, Nashrani atau Majusi…” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadits tersebut berlaku untuk seluruh manusia, maka Adam  dan generasi pertama dari keturunannya adalah lebih pantas untuk berada di atas aqidah selamat. Adapun syirik dan kesesatan adalah perkara yang muncul kemudian setelah beberapa zaman dan generasi secara bertahap.


II. Kapan mulai terjadinya penyimpangan.

Sejak Adam , umat manusia ada dalam aqidah selamat, di atas agama yang murni, namun setahap demi setahap terus menyimpang, sebagaimana firman Alloh :
“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Alloh mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Alloh menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Dan tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka kitab, setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Alloh memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Alloh selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqoroh [2]:213)

Ibnu Katsir  berkata: Dari Ibnu Abbas  ia berkata:
“Antara Nuh  dan Adam  adalah sepuluh generasi, semua di atas syari’at al-haq, lalu mereka berikhtilaf (menyimpang), maka Alloh mengutus para nabi-Nya untuk memberi kabar gembira dan peringatan.”

Ayat di atas menunjukkan bahwa sebelumnya manusia berada di atas jalan yang lurus, di atas agama yang murni tanpa kesyirikan dan kekufuran. Kemudian manusia menyimpang dari kemurnian sampai titik kekufuran kepada Alloh  setelah 10 kurun, lalu diutuslah para nabi-Nya untuk mengembalikan mereka kepada agama yang lurus dan murni. Nabi pertama yang diutus ketika terjadi penyimpangan adalah Nuh .


III. Pelopor penyimpangan.

Pelopor penyimpangan adalah Iblis, ketika Alloh  memerintahkan kepadanya untuk bersujud kepada Adam , lalu dia menentang perintah Alloh , sebagaimana firman Alloh :
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat: “Sujudlah kalian kepada Adam”, maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqoroh [2]:34)

Maka murkalah Alloh  kepada Iblis..!!  Kemudian Alloh  mengusirnya dari surga. Ketika itu Iblis meminta ditangguhkan untuk hidup hingga hari akhir dan Alloh  pun memberikan tangguh kepadanya. Lalu Iblis bersumpah untuk manyesatkan seluruh manusia, dari sinilah episode penyesatan manusia dimulai..!!
Alloh  berfirman:
“Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang diusir, sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan”. Iblis berkata: “Ya Robbku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan”.  Alloh berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari Kiamat)”. Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlas (ikhlash) di antara mereka.” (QS. Shad [38]:77-83)

Keberhasilan Iblis menyesatkan umat manusia yang pertama kalinya pada zaman Nuh  adalah hasil kerja kerasnya selama berabad-abad,  dan setelah manusia lupa dari peringatan Alloh .

Alloh  berfirman:
“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kalian dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapak kalian dari surga. Ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kalian dari tempat yang kalian tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu sekutu (teman) bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-‘Araf [7]:27) 

Akhirnya kaum Nuh  menyembah patung orang-orang shaleh di antara mereka yang bernama: Wadd’, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.
Kejadiannya adalah ketika orang-orang shaleh di antara mereka telah meninggal dunia, mereka mulai beri’tikaf di kuburannya, namun mereka tidak merasa puas dengan hanya beri’tikaf saja, lalu mereka membuat patungnya, kemudian setahap demi setahap Iblis menanamkan kecintaan dan pensucian terhadap mereka, akhirnya sepeninggal para pendahulunya (para pembuat patung-patung itu) maka keturunan mereka beribadah kepada patung-patung tersebut.
Manhaj dasar Iblis dalam misi penyimpangan dari kemurnian adalah seperti manhajnya ketika menentang perintah Alloh , yaitu dengan alasan akal, sebagaimana firman Alloh :
“Alloh  berfirman: Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?”. Iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah." (QS. Shad [38]:75-76)

Berkata Ibnul Qayyim :
“Sesungguhnya penentangan terhadap wahyu dengan akal adalah warisan Syaikh Abu Murrah (Iblis), dia menentang wahyu dengan akal dan mengedepankan akal atas wahyu. Sesungguhnya Alloh  ketika memerintahkan dia untuk bersujud kepada Adam, Iblis menentang perintah-Nya dengan qiyas akal yang tersusun dari dua muqaddimah, pertama perkataan: “Aku lebih baik daripadanya”  ini muqaddimah shughra (kecil), sedangkan muqaddimah kubra (besar)-nya dihapus, yaitu: “Yang utama tidaklah bersujud kepada yang kurang utama”. Kemudian dia menyebutkan sandaran muqaddimah pertama, disebut juga sebagai qiyas hamly (tersusun dari dua muqaddimah dan kesimpulannya) yang terhapus dari satu di antara muqaddimahnya, lalu dia berkata: “Karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (ash Shawa’iq III/998-999)


Alasan yang rusak ini selanjutnya menjadi kaidah dan “manhaj” ahli hawa nafsu dalam menentang para nabi dan menentang kebenaran dari sisi Alloh .

MENITI SIROTULMUSTAQIM JALAN MENUJU SURGA!


Shirothulmustaqim.. suatu jalan lurus yang penuh rahmat dan selaras dengan fitroh manusia yang menjadi dasar formasi jiwa dan tubuh manusia. Selain jalan ini, semuanya adalah jalan kesengsaraan, baik di dunia maupun di akhirat. Shirothulmustaqim.. jalan satu-satunya yang akan menghantarkan penitinya ke tempat pertemuan dengan Pencipta jiwa dan raga manusia. Pencipta Yang Maha Agung, Maha Rahim dan Maha baik tak terhingga. Pertemuan yang merupakan puncak kebahagiaan yang tak terlukiskan. Kebahagiaan abadi.. yang tiada tara.. Hanya dengan meniti jalan ini, seseorang bisa menemui-Nya, setelah masuk ke dalam surga-Nya. Seluruh jalan selain jalan ini akan menghantarkan para penitinya ke gerbang-gerbang Jahannam, menenggelamkan mereka di lembah-lembah api yang berkobar-kobar dan penderitaan yang tak tertahankan. Hanya Shirothulmustaqim-lah jalan yang diakui Alloh dan Shirothulmustaqim itu adalah Islam itu sendiri.. Ya, Islam itu sendiri... tetapi Islam yang murni.

Demikian tingginya nilai jalan yang lurus ini... demikian pentingnya mendapatkan jalan ini untuk kemudian menitinya sampai akhir. Karena sangat penting dan sangat tingginya nilai jalan ini, maka wajiblah bagi kita semua untuk memusatkan seluruh daya yang kita miliki untuk mengenal jalan ini dan mempelajari rambu-rambunya. Sebelum itu dan lebih utama dari itu semua, hendaknya kita selalu memanjatkan do'a kepada Penguasa hati-hati kita dan Pemilik petunjuk yang benar agar Dia selalu melimpahkan hidayah-Nya bagi kita sehingga kita mendapatkan Shirothulmustaqim dan menitinya dengan mantap dan benar, serta tidak tergelincir hingga di penghujung jalan. Sudah seharusnya kita mempelajari dengan seksama "Rambu-rambu Utama Jalan Ini" satu persatu dan selalu bersentuhan dengan pengarahan-pengarahan yang bersangkutan dengan ranmbu-rambu ini agar rambu-rambu tersebut selalu menjadi pengiring kehidupan kita sampai akhir nafas kita ini terhembuskan.
*Berpegang teguhlah kepada Tauhid, menjadi rambu pertama dan utama. Barangsiapa yang konsisten berpegang teguh kepada tauhid yang benar, maka Alloh menjamin surga baginya, walau seberat apapun dosa-dosanya. Tetapi kita tidak bisa berpegang kepada tauhid dan menjauhi lawanya yaitu syirik, tanpa mempelajarinya dengan seksama. Semua tenaga dan waktu yang dicurahkan untuk mempelajari tauhid tidaklah seberapa di bandingkan dengan manfa'at tauhid yang kita peroleh dari hasil pengkajian tersebut.
*Yang kedua, Tauhid akan menjadi benar bila dikawal dengan Ittiba', yaitu pengikutan dalam memahami tauhid dan menerapkannya. Ittiba' adalah unsur utama dan satu-satunya yang mampu mengawal kemurnian agama Islam ini. Tanpa ittiba' dalam hal tauhid, maka tauhid bisa berbalik menjadi syirik! Tidak adanya pengawalan ittiba' dalam hal peribadatan, bahkan dalam hal aqidah sekalipun, berarti jatuh ke dalam kebid'ahan. Bid'ah sangatlah buruk! Bid'ah adalah pengubahan Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ..!! Bidah adalah meninggalkan Islam secara parsial dan pembunuhan terhadap Islam selangkah demi selangkah.
*Rambu Shirothulmustaqim yang ketiga adalah sumber hukum Islam yang benar. Perbedaan antara Islam dan agama-agama sesat atau antar agama-agama sesat itu sendiri sebenarnya disebabkan oleh perbedaan sumber pengambilan substansi agama-agama tersebut. Ketika sumber pengambilan substansi agama berbeda, maka ajaran agama-agama secara keseluruhan berbeda, walaupun secara parsial bisa saja ada komponen-komponen yang sama. Oleh karena itu, memilih sumber yang benar dalam agama Islam tanpa memasukkan sumber-sumber tambahan sangatlah penting sekali. Jika tidak tepat dalam menentukan sumber atau bertoleransi apalagi menerima masuknya sumber-sumber lain, maka yang terjadi adalah kebid'ahan. Ini berarti runtuhnya komponen-komponen Islam yang benar untuk diganti dengan komponen-komponen yang tidak datang dari Alloh dan tidak pernah diajarkan oleh Rosululloh . Sumber hukum yang benar dalam Islam yang murni adalah wahyu Alloh , karena agama ini adalah dari Alloh . Wahyu pertama yang berupa Al-Qur'an, baik lafaz-lafaznya maupun huruf-hurufnya secara murni adalah dari Alloh . Sedangkan wahyu kedua adalah hadits-hadits Rosululloh yang substansi (makna)nya berasal dari Alloh tetapi disampaikan oleh perkataan Rosululloh, perbuatan dan ketetapannya.
*Rambu Shirothulmustaqim yang keempat yang tidak kalah pentingnya adalah pengikutan kepada para sohabat dalam memahami Al-Qur'an dan hadits serta dalam memahami ajaran-ajaran Rosululloh , yang berarti mengikuti mereka dalam menerapkan ittiba'. Sebagai contoh dan untuk lebih memperluas pengertian kita tentang hal ini, Rosululloh bersabda : "Sholat berjama'ah lebih utama daripada sholat sendiri dengan dua puluh tujuh derajat." (HR. Bukhori dan Muslim). Dalam hadits ini tidak ditentukan apakah sholat yang dimaksudkan adalah sholat wajib ataukah sholat sunnah atau bahkan keduanya. Dari penerapan sohabat tentang sholat, kita dapati hadits ini umumnya untuk sholat wajib. Maka kita tidak berjama'ah dalam sholat tahiyyatul masjid serta sunnah qobliyah dan ba'diyah. Demikian juga banyak hal yang serupa dalam hadits-hadits lainnya, misalnya tentang keutamaan berjama'ah yang tidak diterapkan pada ibadah dzikir, karena para sohabat tidak menerapkannya walaupun ada hadits Rosululloh yang berbunyi : "Tidaklah duduk suatu kaum berdzikir menyebut Alloh kecuali para malaikat akan mengelilingi mereka, rahmat Alloh meliputi mereka, ketentraman turun kepada mereka dan Alloh menyebut-nyebut mereka di kalangan malaikat yang ada di sisi-Nya." (HR. Muslim). Hadits ini tidak difahami oleh para sohabat sebagai suatu izin untuk dzikir bersama dengan satu paduan suara atau di bawah satu komando. Hal ini jelas kita lihat, karena mereka tidak menerapkannya. Dalam rangka menerapkan rambu keempat tersebut, maka kitapun tidak boleh menyelisihi jalan mereka dengan berdzikir di bawah satu komando dan dengan paduan suara. Jika kita kerjakan, maka kita telah mengerjakan suatu kesesatan. Seandainya umat ini konsisten mengikuti rambu-rambu Shirothulmustaqim ini, niscaya mereka tidak akan terpecah belah dalam firqoh-firqoh yang bermacam-macam. Tetapi sudah menjadi ketetapan Alloh bahwa banyak dari umat ini yang tidak konsisten terhadap rambu-rambu ini, dan akhirnya pecahlah mereka menjadi 73 golongan dan hanya satu golongan saja yang tetap lurus mengikuti rambu-rambu Shirothulmustaqim serta terus menitinya. Sedangkan 72 golongan yang lain, mengabaikan sebagian dari rambu-rambu ini lalu sesatlah mereka.
Penyelisihan manusia terhadap Shirothulmustaqim pun sangat beragam. Penyelisihan terbesar adalah tidak masuknya mereka ke dalam Shirothulmustaqim atau keluar total setelah memasukinya (murtad). Mereka yang tidak memasukinya adalah mereka yang menolak seluruh rambu-rambu Shirothulmustaqim, sedangkan mereka yang keuar total dari Shirothulmustaqim setelah memasukinya terbagi atas dua golongan. Yang pertama, mereka yang dengan sadar dan sengaja meninggalkan Islam, baik berpindah agama atau tidak memeluk agama sama sekali. Kedua, mereka yang melanggar rambu pertama (tauhid) dan berjalan di atas jalur kebalikannya, yaitu syirik besar serta bersikeras menitinya walaupun tetap mengaku sebagai kaum muslimin. Termasuk golongan ini adalahmereka yang menolak ittiba' secara total dengan menolak hadits-hadits Rosululloh secara keseluruhan dan tidak mengakuinya sebagai sumber yang harus diikuti.

Penyelisihan lain menurut urutan besar dan kecilnya adalah meninggalkan sebagian ittiba' kepada Rosululloh dan mengikuti perkataan selain beliau yang bertentangan dengan petunjuk beliau. Dengan kata lain, secara teori tidak menolak ittiba' kepada Rosululloh , tetapi di dalam prakteknya.. Lihat Selengkapnyamencampur-adukkan antara sunnah dengan bid'ah serta bersikeras untuk terus berbuat demikian dengan alasan-alasan yang tidak bisa diterima secara syar'i. Mereka adalah "ahlul Bid'ah". Penyelisihan macam inilah yang telah menjadi dasar terbentuknya golongan-golongan keagamaan (ingat bukan organisasi-organisasi keagamaan) dalam Islam, yaitu golongan-golongan yang tersesat dari Shirothulmustaqim yang dinamakan "firoq dhollah". Golongan-golongan ini membentuk manhaj-manhaj sempalan berdasarkan sumber-sumber tambahan yang tidak syar'i dan karena adanya kecacatan dalam ittiba' kepada Rosululloh . Mereka masih terhitung bagian dari umat Islam, selama pelanggaran-pelanggaran mereka tidak sampai kepada kekufuran atau kesyirikan. Jika mereka sudah melakukan salah satu pembatal keislaman, maka dengan syarat sudah tegaknya hujjah atas mereka, yaitu ilmu yang jelas dan disampaikan dengan jelas, maka mereka bukanlah dari golongan orang-orang Islam. Akan tetapi, walaupun kita telah menyaksikan maraknya golongan-golongan sesat pada zaman kita ini khususnya dan pada zaman-zaman lampau pada umumnya, sebagaimana telah dikabarkan oleh Rosululloh bahwa perpecahan umat ini akan terjadi, tetapi Alloh tetap menjaga agama-Nya yang murni untuk tetap jelas dan tidak kabur atau samar.

Rosululloh bersabda :
"Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang memperoleh kemenangan, tidak merasa terkalahkan oleh orang-orang yang menghina mereka, sampai datangnya hari kiamat." (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim)

"Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang tetap berada di atas kebenaran, tidak merasa terkalahkan oleh orang-orang yang menghina mereka, sampai datangnya urusan Alloh (hari kiamat) dan mereka tetap dalam keadaan seperti itu." (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Baihaqi dan Hakim)

Dengan adanya golongan yang konsisten kepada Islam yang murni, menjaga kemurniannya dan berjuang menjayakannya, maka agama Islam yang murni tidak akan pernah pudar, apalagi menghilang. Untuk menjaga agamanya, Alloh pun membangkitkan para pembaharu pada setiap seratus tahun untuk meluruskan pemahaman umat tentang Islam, seperti waktu didakwahkan oleh Rosululloh dahulu kala.

Rosululloh bersabda :
"Sesungguhnya Alloh akan mengutus bagi umat ini dalam setiap seratus tahun seseorang yang akan memperbaharui urusan agama bagi mereka." (HR. Abu Dawud, Baihaqi dan Hakim)

Demikianlah halnya Tho'ifah al Manshuroh, Firqotunnajiyah Ahlussunnah wal Jama'ah terus berada di tengah-tengah umat sebagai contoh hidup dari Islam yang murni. Tho'ifah al manshuroh (golongan yang dimenangkan Alloh ) adalah lingkaran inti dari Ahlussunnah yang berjuang dengan menempuhsebab-sebab dan mengupayakan langkah-langkah yang menjadi syarat turunnya pertolongan Alloh dalam memperjuangkan agama yang suci ini.

Ummat ini... umat yang dirahmati Alloh , kini berada dalam keterpurukan hebat yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Mereka lemah pada sebagian besar sisi kehidupan, diperangi, dan didzolimi di banyak negeri. Kemiskinan dan kebodohan adalah warna kayoritasnya. Cengkeraman musuh-musuh mereka amat kuat membelenggu. Akan tetapi yang jauh lebih menyedihkan adalah jauhnya mayoritas umat ini dari meniti Islam yang murni. Keadaan ini bukan saja menjadi sebab dari penderitaan yang kita paparkan sebelum ini tetapi juga sangat mengancam kehidupan mereka di akhirat nanti, semoga Alloh mengampuni dan merahmati kita dan seluruh umat ini. Kepungan yang mencekik terlalu keras! Kekuatan-kekuatan hitam mengepung umat ini dari segala penjuru! Karena kejahilan, mereka dikepung oleh media, terutama televisi. Ajaran-ajaran sesat merajalela, para tukang sihir dengan nama-nama "keren" yang bermacam-macam menawarkan bantuan dan solusi dalam memecahkan problematika kehidupan melalui persembahan-persembahan kepada iblis. Perbuatan-perbuatan maksiat merajalela, cara berpakaian mayoritas waanita-wanita muslimah sama sekali tidak Islami, bahkan hampir-hampir tidak ada bedanya dengan wanita-wanita non muslimah. Praktek-praktek ke-Islamanpun banyak sekali yang menyimpang dari prinsip Ittiba'. Penyembahan terhadap setan menyebar melalui berbagai ritual-ritual bid'ah dan syirik. Anak-anak diasuh oleh media, khususnya televisi dengan sajian-sajian Hindu atau Budha, atau agama lainnya dan juga melalui program-program westernisasi. Tidak heran, karena demikian realitasnya, semakin banyaknya musibah dan malapetaka terus menimpa bangsa ini, maka semua ini harus digagalkan! Umat ini harus diselamatkan! Orang-orang sholih seperti "Anda" dan "kita semua" harus dimobilisasi untuk menjalankan usaha-usaha penyelamatan yang benar! Langkah pertama dan utama berjangka panjang adalah mendakwahi dan membina umat ini untuk kembali meniti Islam yang murni, meniti Shirothulmustaqim..!! Ini adalah konsekuensi dari ittiba' Anda kepada Rosululloh ! Ya, konsekuensi dari ittiba' dan penitian Anda atas Shirothulmustaqim..!!

Alloh berfirman :
قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
"Katakanlah : 'Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kalian) kepada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Alloh, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik." (QS. Yusuf [12] : 108) 
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Rosululloh dan para pengikutnya meniti jalan da'wah menuju keridhoan Alloh, meniti Shirothulmustaqim..!!

Semoga Alloh memberkahi kita semua dan menjadikan kita penolong-penolong agama-Nya. Aamiin.. 

SELAMATKAN DIRI DARI API NERAKA DENGAN SEDEKAH


Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam bersabda:
"Jauhilah api neraka, walau hanya dengan bersedekah sebiji kurma. Jika kamu tidak punya, maka bisa dengan kalimah thayyibah". (HR. Bukhari & Muslim)

PADAMKAN SIKSA KUBURMU DENGAN SEDEKAH


Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam bersabda :
“Sedekah akan memadamkan api siksaan di dalam kubur.”  (HR. Thabrani)

BALASAN ALLAH YANG BERLIPAT-GANDA UNTUK ORANG YANG BERSEDEKAH

Allah Ta’ala berfirman :
إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (balasannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18)

TABLIGH AKBAR & BAKTI SOSIAL BERJALAN LANCAR DAN SUKSES..!!



Alhamdulillah..


Kegiatan Tabligh Akbar & Bakti Sosial yang diselenggarakan oleh Yayasan Utsman Bin Affan Indonesia bersinergi dengan HASMI SOLO dan bekerjasama dengan DKM AL-FURQON serta di dukung sepenuhnya oleh FORSITAMAS Berjo di wilayah Karanganyar berjalan lancar dan sukses. Semoga Alloh subhanahu wata'ala memberikan hidayah ilmu dan taufiq kepada kita semua utk dapat senantiasa istiqomah meniti SIROTULMUSTAQIM hingga berujung di Surga-Nya nanti..!! Aamiin..